Pelajaran Berharga dari Sisi Kehidupan AL-IMAM ASY-SYAFI’I Rahimahullah
Sejarah para ulama salaf merupakan salah satu tentara dari tentara-tentara Allah subhanahu wata’ala . Begitu seorang muslim mempelajarinya, ia akan bisa mengambil pelajaran darinya, kemudian bersegera untuk mengamalkannya. (Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah)
Biografi beliau rahimahullah
Beliau adalah seorang imam, ‘alim di zamannya, seorang penolong sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , dan orang yang faqih.
Secercah Nasihat 'Tuk Para Pemuda
Para pembaca, semoga Allah ‘azza wajallaselalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Tidak diragukan lagi bahwa manusia yang memiliki fitrah yang suci pasti mencita-citakan kebahagiaan dan ketentraman dalam kehidupannya, terkhusus pada zaman sekarang yang penuh dengan fitnah. Sesuatu yang diharamkan Allah ‘azza wajalla dianggap sebagai sesuatu yang halal, perbuatan yang melanggar norma-norma agama dianggap sebagai hal yang lumrah dan wajar. Masyarakat pun bertambah hari semakin jauh dari bimbingan Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh dalam kondisi seperti ini seorang hamba sangat butuh dengan pertolongan Allah ‘azza wajalla.
Saudaraku seiman…
Merupakan fitrah yang telah Allah jadikan pada diri manusia bahwa kaum lelaki memiliki ketertarikan (kecintaan) kepada kaum wanita dan juga sebaliknya, Allah‘azza wajalla dalam Al-Qur’an menyatakan (artinya);
Dakwah Hikmah Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali
Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali Hafizhahullah mengisahkan pengalaman dakwah beliau di Negeri Sudan,
"Sesampainya saya di Bandara Sudan, saya disambut oleh para pemuda Jama'ah Anshar As Sunnah. Mereka memberi masukan,
"Ya syaikh, bolehkah kami menyampaikan beberapa saran kepada anda?".
"Silahkan" kataku.
Mereka berkata, "Wahai Syaikh, silahkan anda berceramah sekehendak anda dengan (mengutip) firman Allah dan sabda Nabi-NYA, tidak mengapa engkau sebutkan berbagai jenis bid'ah dan kesesatannya, baik kaitannya dengan doa kepada selain Allah, menyembelih, Nadzar atau Istighotsah kepada selain-Nya. Namun sebaiknya engkau tidak menyinggung tarekat tertentu atau syaikh fulan! Jangan sampai engkau mengatakan bahwa tarekat Tijaniyyah atau Bathiniyyah sesat. Jangan pula kau mencaci tokoh-tokohnya.
"Sesampainya saya di Bandara Sudan, saya disambut oleh para pemuda Jama'ah Anshar As Sunnah. Mereka memberi masukan,
"Ya syaikh, bolehkah kami menyampaikan beberapa saran kepada anda?".
"Silahkan" kataku.
Mereka berkata, "Wahai Syaikh, silahkan anda berceramah sekehendak anda dengan (mengutip) firman Allah dan sabda Nabi-NYA, tidak mengapa engkau sebutkan berbagai jenis bid'ah dan kesesatannya, baik kaitannya dengan doa kepada selain Allah, menyembelih, Nadzar atau Istighotsah kepada selain-Nya. Namun sebaiknya engkau tidak menyinggung tarekat tertentu atau syaikh fulan! Jangan sampai engkau mengatakan bahwa tarekat Tijaniyyah atau Bathiniyyah sesat. Jangan pula kau mencaci tokoh-tokohnya.
Sudah Siapkah Kita Bila Ajal Tiba ? (2)
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’.” (An Nisa’ : 17-18)
“Dan datanglah skaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (Qaaf: 19)
Wasiat Emas Bagi Pengikut Manhaj Salaf
Oleh :
Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi -Hafidhahullahu-
Alih Bahasa :
Abu Abdirrahman assalafy, Lc.
بسم الله الرحمن الرحيم
Ucapan terima kasih dan penghormatan
Saya ucapkan rasa terima kasih kepada Fadhilatusy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali atas kesediaan beliau untuk aku membacakan buku ini padanya, serta atas nasehat beliau yang berharga dalam hal ini. Sebagaimana juga aku berterima kasih kepada Syaikh Abdul Malik Ramadhani atas kesediaan beliau dalam meneliti buku ini dan mengoreksinya.
Madzhab Ahlussunnah Wal Jama'ah Tentang Asma' dan Shifat-Shifat Allah Secara Tafshil / Rinci
Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah madzhab kaum salaf Rahimahumullah Ta'ala. Mereka beriman kepada apa saja yang disampaikan oleh Allah mengenai diri-Nya di dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam dengan keimanan yang bersih dari tahrif dan ta'thil serta dari takyif dan tamtsil. Mereka menyatukan pembicaraan mengenai sifat-sifat Allah dengan pembicaraan mengenai Dzat-Nya, dalam satu bab. Pendapat mereka mengenai sifat-sifat Allah sama dengan pendapat mereka mengenai Dzat-Nya.
Madzhab Ahlussunnah Wal Jama'ah Secara Ijma / Global Mengenai Shifat-Shifat Allah
Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta'ala, tanpa ta'thil, tamtsil, tahrif, dan takyif[1]. Mereka mempercayainya sebagaimana tersebut dalam nash Al-Qur'an dan Al-Hadits.
[1]. Tahrif
Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. Menurut pengertian syar'i berarti: merubah lafazh Al-Asma'ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi, atau makna-maknanya. Tahrif ini dibagi menjadi dua:
Pertama:
Tahrif dengan cara menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh. Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah, dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka,
[1]. Tahrif
Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. Menurut pengertian syar'i berarti: merubah lafazh Al-Asma'ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi, atau makna-maknanya. Tahrif ini dibagi menjadi dua:
Pertama:
Tahrif dengan cara menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh. Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah, dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka,
Metode Ahlussunnah Wa Jama'ah Dalam Meniadakan dan Menetapkan Asma' dan Shifat Bagi Allah
Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya secara tafshil, dengan landasan firman Allah :
وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
"Artinya : Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat." [Asy-Syura : 11]
Karena itu, semua nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya atau oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam, mereka tetapkan untuk Allah, sesuai dengan keagungan sifat-Nya. Sebaliknya, Ahlus Sunnah wal Jama'ah menafikan apa yang telah dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh rasul-Nya,
Karena itu, semua nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya atau oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam, mereka tetapkan untuk Allah, sesuai dengan keagungan sifat-Nya. Sebaliknya, Ahlus Sunnah wal Jama'ah menafikan apa yang telah dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh rasul-Nya,
Sudah Siapkah Kita Bila Ajal Tiba ? (1)
Ada cerita mengenai orang-orang terdahulu, seseorang diantara mereka bertanya, "Maukah engkau mati sekarang?" Temannya menjawab, "Tentu tidak." Lalu ditanyakan lagi kepadanya, "Kenapa?" Jawabnya, "Saya belum bertaubat dan berbuat kebajikan." Selanjutnya dikatakan kepada orang itu, "Kerjakanlah sekarang!" Ia menjawab, "Nanti saya akan lakukan." Demikianlah ia selalu berkata, "Nanti dan nanti," Sehingga akhirnya ia meninggal dunia tanpa sempat bertaubat dan melakukan perbuatan baik. Saya yakin engkau tidak mau berakhir seperti ini. Jadi,
"Lakukanlah bagi dirimu taubat dengan penuh pengharapan
Sebelum kematian dan sebelum dikuncinya lisan
Cepatlah bertaubat sebelum jiwa ditutup
Taubat itu simpanan bagi pelaku kebaikan."
Ingatlah wahai saudaraku, keadaanmu di saat engkau merasakan pedihnya sakaratul maut, yang pada saat menghadapinya demi Allah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai makhluk yang paling dicintai Allah bersabda, "Tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah sesungguhnya dalam kematian itu terdapat rasa kesakitan." [HR. Bukhari]
Bayangkan wahai saudaraku, engkau berada di hadapan kematian ini. Malaikat maut tepat berada di atas kepalamu. Nafasmu tersengal, hatimu bergetar, nyawamu meregang, mulutmu terkunci, anggota badanmu lemas, lehermu berkeringat, matamu terbelalak, pintu taubat telah tertutup untukmu, dahimu berkeringat, di sekitarmu penuh dengan tangisan dan suara rintihan, sedang kau dalam kesedihan yang mendalam, tiada yang dapat menyelamatkan dan menghindarkanmu darinya. Engkau saksikan peristiwa mengerikan itu setelah sebelumnya kenikmatan dan kesenangan yang kau rasakan. Telah datang kepadamu ketentuan Allah, lalu nyawamu diangkat kelangit. Kebahagian atau kesengsaraankah yang akan kau dapat? Jawaban atas pertanyaan itu mari kita lihat di surat Al Waqi'ah ayat 82-96.
Suatu ketika Khalifah Harun Al Rasyid memenuhi majlisnya dengan berbagai makanan dan perhiasan, lalu beliau menghadirkan Abu Al Atahiyah (Penyair ternama di masanya) dan berkata kepadanya, "Ungkapkan pada kami kenikmatan dunia yang telah kami peroleh." Ia menjawab, "Hiduplah dengan sesuka hatimu dalam naungan istana yang tinggi." Al Rasyid berkata, "Bagus, lalu apalagi?" Ia menjawab, "Kenikmatan menjadikan berlari dihadapan pergantian siang dan malam." Al Rasyid berkata, "Bagus. Lalu apa selanjutnya?" Ia menjawab,
"Jika nyawamu telah meregang
di hadapan hati yang bergetar,
saat itu kamu akan tahu dengan pasti
bahwa selama ini kamu terpedaya."
Lalu menangislah Khalifah Harun Al Rasyid. Salah seorangpejabatnya berkata kepada Abu Al Atahiyah, "Engkau dipanggilke sini oleh Amirul Mukminin untuk menghibur hatinya, akan tetapi engkau menjadikannya sedih." Harun Al Rasyid berkata, "Biarkanlah ia, sesungghnya ia melihat kita dalam kebutaan, dan ia tidak ingin kita semua buta."
Benar wahai saudaraku, cukuplah kematian sebagai nasehat, cukuplah kematian menjadikan hati bersedih, menjadikan mata menangis, perpisahan dengan orang-orang tercinta penghilang segala kanikmatan, pemutus segala cita-cita.
Suatu hari Hasan Al Bashri ditanya, "Apa yang kami lakukan? Kami senantiasa mempergauli kaum yang menakut-nakuti kami, hingga hati kami selalu khawatir?" Ia menjawab, "Demi Allah, jika engkau berkawan dengan kaum yang selalu menakut-nakutimu hingga engkau merasa aman jauh lebih baik daripadamempersgauli kaum yang selalu menentramkanmu, hingga engkau merasa takut."
Renungan kita kali ini mengenai ayat yang agung yang kadang menjadikan orang yang yang membacanya menjadi tergidik ketakutan. Namun baransiapa mempersiapkan diri untuknya, Insya Allah ia akan selamat. Yaitu sebuah ayat, yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya gunung tersebut akan bergetar. Sebuah ayat yang setiap kali terdengar, telinga segera menyimaknya. Sebuah ayat yang setiap kali dibaca, mata menjadi berkaca-kaca. Setiap kali dicerna, hati akan menjadi takut.
Sebuah ayat, yang setiap kali dipahami oleh orang yang lalai membuatnya bertaubat. Seyiap kali diperhatikan oleh orang yang berpaling menjadikannya segera kembali kepada Allah dan meminta ampunanNya.
Sebuah ayat yang menceritakan tentang perjalanan, kepergian, sebuah perjalanan yang berat. Ayat tersebut adalah firman Allah 'Aza wa Jalla,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat saja;ah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."[Ali Imran: 185]
Memang wahai saudaraku...! perjalanann ini adalah menuju akhirat. Suatu perjalanan yang kita memohon kepada Allah agar tujuan akhirnya adalah surga, bukan neraka.
Karena keagungan perjalanan ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." [Muttafaq 'Alaih]
Maksudnya jika kita mengetahui hakikat kematian dan kedahsyatannya, alam kubur dan kegelapannya, hari kiamat dan segala kesedihannya, Shirath (titian) dan segala rintangannya, kemudian jika kita memperhatikan surga dan segala kenikmatannya, neraka dan kobaran apinya, niscaya keadaan kita akan segera berubah. Akan tetapi terkadang kita lupa atau pura-pura lupa dengan perjalanan tersebut dan malah memilih dunia ini yang nilainya di sisi Allah tidak lebih dari sehelai sayap Nyamuk.
Wahai orang-orang yang tertipu oleh dunianya, wahai orang yang berpaling dari Allah, wahai orang yang lengah dari ketaatan pada Rabbnya, wahai orang-orang yang setiap kali dinasehati hawa nafsunya menolak nasehat ini, wahai orang-orang yang dilalaikan oleh nafsunya, dan tertipu oleh angan-angan panjangnya.
Pernahkah engkau memikirkan saat-saat kematian sedangkan engkau tetap dalam keadaanmu semula? Tahukah kamu apa yang akan terjadi pada dirimu di saat kematianmu?
Tentu saat itu engkau akan mengucapkan Laa ilaaha illallah, tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah. Tidak mungkin wahai saudaraku, jika engkau masih tetap lalai dan berpaling dari kebenaran hingga tiba saat-saat kematianmu. tentu engkau tidak akan mampu mengucapkannya, bahkan kamu akan berharap untuk dihidupkan kembali. (lihat Al Mu'minun: 99-100).
Kilas Balik Pencetus Takfir
Oleh : Ustadz Abu Abdirrahman bin Thoyyib
Berbicara mengenai terorisme dan pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai negara, khususnya Indonesia dan Saudi Arabia, tidak terlepas dari pembahasan masalah takfir/pengkafiran. Tidaklah mereka yang berani dan nekad serta tega membunuh kaum muslimin, entah dengan bom bunuh diri atau bom waktu dan yang lainnya, melainkan telah mengakar dalam hatinya pemikiran takfir. Mereka menganggap bahwa kaum muslimin sekarang ini tidak ada bedanya dengan orang-orang kafir (Yahudi maupun Nashara). Maka dari itu mereka menghalalkan darah, harta dan kehormatan kaum muslimin.
Sejarah telah membuktikan akan hal ini. Tidaklah orang-orang Khowarij[1] menghalalkan darah Ali dan para sahabat yang lain rodhiyallohu ‘anhum, melainkan dilatarbelakangi oleh keyakinan mereka, bahwa Ali dan para sahabat itu telah kafir. Oleh karena itu simak dengan seksama hal-hal berikut ini:















